Kamu bisa langsung beli Sony A7 IV di Shopee disini jika setelah membaca ini kamu sadar bahwa kamera ini masih salah satu investasi paling solid di 2025.

Ketika Sony A7 Mark IV dirilis pada akhir 2021, banyak reviewer global seperti DPReview dan CineD langsung menobatkannya sebagai hybrid camera king. Kamera ini membawa sensor 33MP full-frame, 10-bit 4:2:2 internal recording, dan sistem autofocus berbasis AI yang sangat cepat. Tapi empat tahun telah berlalu, dan pasar kini dipenuhi dengan model seperti Canon R6 II, Panasonic S5 II, dan Sony A7C II. Pertanyaannya, apakah A7 IV masih relevan di 2025?

Sebagai seseorang yang telah memakai kamera ini untuk short film, dokumenter, dan iklan digital, saya akan meninjau A7 IV dari sisi filmmaking, bukan sekadar foto. Sejalan dengan visi Tetradicinema, ulasan ini berfokus pada bagaimana teknologi kamera berfungsi dalam konteks produksi film nyata.

Hybrid DNA: The Balance Between Cinema and Still

Sony mendesain A7 IV sebagai true hybrid system — bukan hanya kamera foto yang bisa video, tapi platform yang nyaman untuk dua dunia itu sekaligus. Sensor 33MP BSI CMOS dengan dynamic range 15 stop memberi ruang besar untuk menyesuaikan pencahayaan di set. Bagi sutradara dan DOP, fleksibilitas ini penting ketika lighting di lokasi tidak selalu ideal.

Dalam mode video, A7 IV mampu merekam 4K 60p 10-bit 4:2:2 dengan oversampling dari 7K pada 30p. Warna S-Cinetone yang sama dengan lini cinema Sony membuat footage-nya langsung usable tanpa banyak color grading — mirip dengan workflow di FX3, tapi dengan harga jauh lebih ramah. Jika kamu ingin mendalami cara grading footage S-Cinetone di post, cek panduan Review Editing Terbaru di Tetradicinema — di sana dibahas juga bagaimana color workflow memengaruhi storytelling visual.

Ergonomics dan Build Quality: Built for Set Work

Secara fisik, A7 IV terasa jauh lebih solid dibanding pendahulunya. Desain grip-nya kini lebih ergonomis, dengan tombol besar dan bisa dikustomisasi. Peningkatan ini bukan kosmetik — sistem pendinginan juga jauh lebih baik. Dalam uji panjang, A7 IV mampu merekam 4K 60p selama lebih dari satu jam tanpa thermal shutdown. Ini penting untuk dokumenter atau wawancara panjang di lapangan.

Desain bodinya yang agak tebal mungkin membuat sebagian orang ragu, tapi justru itu yang memberi ruang pendinginan tambahan. Dengan sistem 5.5-stop IBIS, A7 IV sangat stabil untuk handheld shot, bahkan tanpa gimbal. Hybrid crew yang sering berpindah lokasi atau shooting cepat akan menghargai ketahanan kamera ini.

Kamu bisa langsung beli Sony A7 IV di Shopee disini jika kamu mencari kamera yang bisa diandalkan seharian penuh tanpa takut panas atau drop performa.

Image Quality: Real-World Dynamic Range

Banyak reviewer, termasuk Photography Blog, memuji kualitas gambar A7 IV. Dynamic range-nya yang luas menjaga detail di highlight dan shadow bahkan di kondisi pencahayaan sulit. Dalam pengalaman saya di set, S-Cinetone menghasilkan skin tone yang pleasing tanpa perlu koreksi berlebihan. A7 IV juga mampu mempertahankan warna yang konsisten antar scene — sesuatu yang jarang dimiliki kamera di bawah $2500.

Dalam konteks review kamera terbaru, A7 IV tetap jadi referensi untuk kualitas gambar di kelas full-frame hybrid. Dibanding Canon R6 II atau Lumix S5 II, perbedaannya lebih ke tone dan color preference ketimbang kualitas murni. Kalau kamu tertarik membandingkan peralatan produksi lainnya seperti lighting dan sound gear, kunjungi Review Equipment Film di Tetradicinema.

Autofocus dan Tracking: Reliable for Run-and-Gun

Autofocus (AF) A7 IV menggunakan algoritma AI yang sama dengan Sony A1. Real-Time Eye AF untuk manusia dan hewan bekerja sangat akurat. Dalam proyek dokumenter urban di Jakarta, kamera ini berhasil menjaga fokus di subjek yang terus bergerak di keramaian tanpa kehilangan lock. Bahkan di mode video, focus transition speed bisa diatur agar hasilnya halus seperti ditarik oleh focus puller profesional. Dengan touch tracking di layar flip-nya, transisi antar subjek jadi intuitif — fitur yang sangat berguna untuk one-man crew atau sutradara independen.

Codec dan Workflow Editing

A7 IV mendukung XAVC S-I (All-Intra) dan XAVC HS (H.265). File All-Intra-nya besar, tapi sangat ramah untuk post-production. Dalam pengujian menggunakan DaVinci Resolve dan Premiere Pro, footage 4K 10-bit A7 IV bisa diedit tanpa proxy di laptop M1, membuktikan efisiensi codec Sony. Perbedaan antara S-Log3 dan S-Cinetone pun fleksibel — kamu bisa memutuskan apakah ingin hasil “flat for grading” atau “ready to deliver.” Jika kamu ingin panduan lebih lanjut tentang workflow editing dan color management, lihat artikel Review Editing Terbaru di Tetradicinema – berita film.

Low-Light and Lighting Flexibility

Untuk produksi kecil atau dokumenter, A7 IV juga kuat di low light. ISO 6400 masih usable dengan grain halus. Saat diuji pada produksi dengan practical light minimal, kamera ini masih menghasilkan detail yang baik. Bagi gaffer atau grip crew yang sering bekerja di lokasi dengan keterbatasan lampu, hasil ini memberi ruang kreatif tanpa banyak alat tambahan. Dalam perbandingan langsung dengan FX3 yang dilakukan oleh Hybrid.co.id, hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan low light performance tidak terlalu signifikan untuk kebutuhan indie filmmaker.

Compared to the New Generation: Value Over Time

Sekarang, dengan munculnya Sony A7C II dan FX30, A7 IV menghadapi tekanan dari lini baru Sony sendiri. Tapi justru di sinilah A7 IV bersinar. Ia menawarkan keseimbangan antara fitur profesional dan harga yang kini makin kompetitif. A7 IV masih salah satu kamera hybrid paling lengkap di bawah 30 juta rupiah, dengan kombinasi color science, autofocus reliability, dan build quality yang jarang ditandingi. Untuk filmmaker yang butuh satu kamera all-around tanpa masuk ke lini cinema, A7 IV masih masuk akal — terutama jika kamu ingin future-proof your gear.

SpesifikasiDetail
Sensor33MP Full-Frame BSI-CMOS
MountSony E-Mount
Video4K 60p 10-bit 4:2:2
ISO Range100–51200 (expandable to 50–204800)
Autofocus759 phase-detect points, Real-Time Eye AF
Stabilization5-axis IBIS
StorageDual Slot SD UHS-II / CFexpress Type A
BodyMagnesium Alloy, Weather-Sealed
Screen3.0″ Vari-Angle Touch LCD
Viewfinder3.69M-dot OLED EVF
Weight±659g (with battery)

Kamu bisa langsung beli Sony A7 IV di Shopee disini dan rasakan sendiri mengapa banyak DOP masih mengandalkannya di 2025.

Verdict: Timeless Hybrid Camera

Apakah Sony A7 IV masih relevan di 2025? Jawabannya: ya, dan masih sangat kompetitif. A7 IV adalah kamera yang tumbuh bersama penggunanya — fleksibel untuk produksi profesional, tapi tetap mudah dioperasikan oleh kreator solo. Ia tetap menjadi pilihan kuat bagi filmmaker yang mencari balance antara kualitas sinematik, efisiensi workflow, dan reliabilitas di lapangan.

Jika kamu ingin terus memperdalam pengetahuan soal teknologi kamera, lighting setup, dan dokumentasi produksi film, kunjungi Tetradicinema — media yang membahas review equipment film, teknologi sinema, dan tips produksi bagi filmmaker di seluruh level.

Kamu bisa langsung beli Sony A7 IV di Shopee disini sebelum stoknya habis, karena meskipun 2025 dipenuhi kamera baru, A7 IV tetap pilihan aman yang terbukti di set.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *