Agak Laen 2: Indra jegel, Oki Rengga, Boris Bokir, Bene

Kenapa Film Ini Kerasa Fresh?

Begitu film mulai, kamu langsung ngerasa kalau dunia yang dibangun di sini beda banget dari film pertama. Aura horor-komedinya diganti dengan vibe komedi-investigasi yang lebih chaotic tapi tetap terarah. Empat karakter utama—yang sudah akrab banget bagi penonton—dipindahin ke latar baru yang sama sekali nggak terduga: panti jompo.

Premisnya simpel banget: mereka harus menyamar sebagai perawat untuk nyari buronan kasus kriminal. Tapi “simpel” di sini cuma di atas kertas. Begitu mereka masuk ke panti jompo, semua rencana langsung buyar karena para penghuni lansianya unik, keras kepala, dan kadang lebih merepotkan daripada tersangkanya.

Kalau mau cek gambaran umumnya, kamu bisa lihat ringkasan dari sinopsis lengkap Agak Laen 2 atau daftar pemain dan plot dasarnya di sini, tapi ulasan ini bakal fokus ke pengalaman nonton dan apa yang bikin film ini bekerja (atau kadang kurang bekerja).

Panti Jompo: Latar yang Nggak Kepikiran Tapi Pas Banget

Jujur, pilihan setting ini jenius. Panti jompo itu tempat yang — kalau dipikir — penuh potensi chaos: banyak karakter, tiap orang punya keanehan sendiri, dan semua aktivitas harian bisa berubah jadi bencana kecil kalau tokoh utamanya lengah sedikit.

Film ini manfaatin semua itu buat ngedorong komedi. Ada lansia yang terlalu semangat, ada yang terlalu pintar, ada yang terlalu curiga—dan semuanya bikin penyamaran “detektif-detektifan” jadi makin absurd.

Setting ini juga bikin film punya identitas visual yang beda. Nggak ada lagi tempat gelap ala rumah hantu seperti film pertama; sekarang semuanya lebih cerah, lebih hidup, dan vibe-nya lebih playful. Jika kamu mau lihat detail lain seperti jadwal tayang dan siapa aja pemain yang muncul, bisa langsung cek informasi filmnya.

Komedinya Lebih Matang, Tapi Tetap Liar

Yang bikin film ini naik kelas adalah cara mereka nge-handle humornya. Nggak lagi cuma slapstick atau teriak-teriak. Banyak momen lucu yang datang dari dialog, ekspresi, dan situasi yang makin lama makin runyam.

Chemistry empat karakter utamanya juga kelihatan makin jadi. Banyak adegan yang kelihatannya kayak hasil improvisasi, tapi tetap rapi dan cocok dengan alurnya. Dan yang paling seru: humor yang keluar dari interaksi mereka dengan para lansia ini terasa organik banget.

Beberapa karakter baru bahkan nyuri perhatian. Ada yang super random, ada yang super galak, ada yang emosional tapi lucu—dan mereka bukan sekadar figuran lewat.

Kalau mau dapat gambaran cerita dari angle lain, silakan mampir ke ringkasan lain tentang ceritanya, tapi pengalaman nonton langsung bikin komedinya lebih kerasa.

Mumpung Lagi Bahas Komedi dan Film…

Kalau kamu suka baca-baca review film lain juga, kamu bisa lanjutin eksplorasi genre yang berbeda lewat halaman untuk review film lainnya lengkap di tetradicinema. Ada banyak banget film yang bisa jadi pembanding buat melihat perkembangan komedi Indonesia belakangan ini.

Ceritanya Simple Tapi Nggak Kosong

Walaupun ini komedi-investigasi, filmnya nggak berusaha jadi rumit. Kasus kriminalnya sederhana, tapi cukup buat ngedorong karakter-karakternya ke situasi lucu dan kadang nyebelin. Justru kesederhanaan itu yang bikin pacing filmnya enak diikutin.

Satu hal yang menarik: di balik komedi, film ini punya sedikit sentuhan manusiawi. Ada momen yang bikin kamu mikir soal kesepian, masa tua, hingga hubungan antar manusia yang kadang rumit. Nggak berat, tapi cukup buat jadi “nafas” di tengah tawa.

Kelebihan yang Bikin Film Ini Worth It

  • Komedinya lebih dewasa tanpa kehilangan vibe liar khas Agak Laen
  • Setting panti jompo yang super unik
  • Chemistry para pemain makin kuat
  • Banyak karakter pendukung yang memorable
  • Pacing-nya enak, nggak ada bagian yang kerasa ngaret

Hal yang Masih Kurang Nendang

  • Beberapa humor bisa terasa terlalu absurd bagi sebagian orang
  • Ada karakter baru yang potensinya besar tapi nggak digali lebih dalam

Tapi menurut gue, kekurangan-kekurangan ini masih bisa ditoleransi karena pada akhirnya film ini memang diniatkan sebagai hiburan yang fun, bukan thriller investigatif.

Kesimpulan

Agak Laen 2: Menyala Pantiku! adalah film komedi yang tahu apa yang mau dia capai. Film ini nggak berusaha jadi sekuel dramatis atau lanjutan yang berat—justru dia buka dunia baru yang lebih bebas, lebih lepas, dan lebih pede. Bagi penonton yang cuma mau ketawa dan menikmati karakter-karakter gokil, film ini bakal nendang.

Rating gue: 8.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *